The truth will set you free
Melihat Firman sesederhana Kehidupan Kristus, dan membahasnya sedalam perumpamaan-perumpaanNya.
Senin, 21 Januari 2013
Arti nama Yesus
Ayat bacaan:
Mat.1:1 Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
Yesus (Ibr:Yehoshua;Greek:Iesous) sebenarnya sama pengertiannya dengan "Yosua" dlm perjanjian lama. Arti nama Yesus adalah "Jehova the Saviour"-Yehova penyelamat atau keselamatan Yehova atau Allah Juru selamat.
Ketika kita mengatakan Yesus,maka yang dimaksud adalah Allah Juruselamat.
Nama Yesus adalah nama yang diberikan Allah untuk diriNya sendiri sebagai manusia (Allah yang ber-inkarnasi),sedangkan "Imanuel" adl nama yang diberikan manusia kepadaNya (Mat.1:23).
Dari arti namaNya sebenarnya telah menjelaskan arti menjelmaNya Ia sbg manusia, yaitu untuk menyelamatkan manusia. Jika kita tidak mengetahui arti nama Yesus,kita tdk akan mengerti keseluruhan Alkitab khususnya Perjanjian baru krn kita "tertahan" di Pasal satu ayat satu Perjanjian Baru.
Jadi siapakah Yesus? Dia adalah Allah yang menyelamatkan Manusia.
-Tidak memiliki Dia berarti tidak ada keselamatan,karena hanya di dalam Dia ada keselamatan.
-Keselamatan adalah diri Allah sendiri yang masuk ke dalam kita.
Sudah berapa lama kita percaya (menerima) Yesus tapi kita tidak tahu arti namaNya.
Sekarang pakailah arti nama Yesus ini untuk menjadi pemberitaan Injil kita.
Kamis, 21 Mei 2009
Pertanyaan seputar praktek Baptisan
Dalam perkara ini, ada beberapa perbedaan tafsiran yang mengakibatkan praktek berbeda di antara kaum imani dalam sejarah gereja. Disini saya berbeban untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan dalam pengalaman sewaktu memberitakan Injil. Jawaban-jawaban disini bukan untuk mengkonfrontir perbedaan keyakinan yang ada, tetapi hanya memaparkan fakta-fakta Alkitab, yang sudah pasti tidak ditambahi ataupun dikurangi (Mat.5:37, Why.22:18-19). Semoga dapat memberi bantuan.
Mengapa seseorang perlu dibaptis ?
Baptisan diperlukan bagi seseorang yang telah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Ini tidak berlaku bagi orang yang tidak percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan.
Apakah baptisan itu menyelamatkan? yang saya tahu selama ini bahwa agama tidak menyelamatkan, ajaran-ajaran tidak menyelamatkan, bahkan baptisan pun tidak menyelamatkan.
Kedua pernyataan di depan adalah benar. Tuhan Yesus datang ke dunia bukan membawa atau mendirikan agama. Dia datang membawa keselamatan yaitu dirinya sendiri. Tetapi pernyataan bahwa baptisan tidak menyelamatkan sudah pasti keliru karena tidak sesuai dengan Alkitab. Baptisan adalah langkah orang diselamatkan. Sangat jelas di Markus 16:16 bahwa siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan. Jika seseorang menyatakan bahwa dia percaya Tuhan Yesus maka baptisan adalah bukti kepercayaannya. Percaya dan dibaptis adalah satu langkah dan satu paket, oleh sebabnya ayat di atas memakai kata sambung ”dan” bukan ”atau”. Kita tidak semestinya hanya mengambil yang satu dan mengabaikan yang lain.
Dapatkah di jelaskan lebih jauh bahwa baptisan itu menyelamatkan?
Baptisan telah dilambangkan dengan keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir dalam Kitab Keluaran (1 Kor 10:2). Mesir melambangkan dunia, Firaun melambangkan Iblis. Israel adalah umat Allah yang tinggal di Mesir, mereka harus diselamatkan Allah keluar dari tanah perbudakan Mesir. Keluarnya mereka dari Mesir adalah keselamatan bagi mereka. Tetapi yang harus mereka lakukan untuk diselamatkan dari cengkeraman Firaun di Mesir adalah menyeberangi laut Merah. Penyeberangan mereka adalah dengan masuk di tengah-tengah air yang terbelah, ini adalah perlambangan dari baptisan. Setelah mereka keluar dari air, Firaun dan tentaranya yang mengejar mereka tenggelam di air. Artinya setelah kita keluar dari air baptisan, maka kita diselamatkan dan terbebaskan dari Iblis dan dunia. Iblis dan tentaranya terkubur di dalam air baptisan kita, dan kita mengalami keselamatan sekaligus kemenangan atas Iblis dan dunia. Air bah juga adalah lambang baptisan air yang menyelamatkan Nuh dari angkatannya yang jahat itu (1 Ptr. 3:20-21). Kedua fakta Alkitab ini menegaskan bahwa baptisan menyelamatkan kita.
Markus 16:16 di kalimat kedua berbunyi : tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Ini berarti hanya percaya saja yang menyelamatkan kita dan bukan baptisan, karena baptisan tidak disebutkan lagi dalam kalimat kedua ini.
Kalimat kedua ini justru memperjelas kalimat yang pertama bahwa kalau seseorang itu percaya, maka pastilah dia dibaptis, tapi jika seseorang tidak percaya maka pastilah dia tidak dibaptis, oleh sebab itu kata ”dan tidak dibaptis” tidak perlu dicantumkan lagi, seseorang yang tidak percaya tidak memerlukan baptisan. Hanya orang percaya yang memerlukan baptisan. Saya bekerja maka saya beroleh upah, tetapi jika saya tidak bekerja maka saya pasti tidak beroleh upah. Saya memiliki seorang anak, maka saya harus merawat anak saya. Jika saya tidak mempunyai anak maka. . . .(kalimat selanjutnya tidak diperlukan lagi karena kita semua telah mengetahuinya). Semoga ilustrasi ini membantu kita.
Hari ini ada berbagai cara-baptisan di dalam Keskristenan. Menurut saya itu bukan suatu masalah. Yang penting disini adalah apa yang saya yakini benar, itulah yang baik menurut iman saya.
Masalahnya adalah apakah keyakinan itu berdasarkan firman Tuhan atau tidak. Kita tidak semestinya meyakini sesuatu tanpa dasar yang jelas. Kajian teologis atau praktek tradisi sering dipakai untuk memaksakan adanya pengesahan terhadap suatu pelaksanaan atau praktek dalam kekristenan. Berbagai cara baptisan adalah fakta banyaknya perbedaan pandangan atau tafsiran di dalam kekristenan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa semua praktek itu benar, karena di dalam Alkitab kita hanya dapat melihat satu cara baptisan.
Jadi menurut caranya bagaimana seharusnya kita dibaptis?
Seharusnya kita dibaptis menurut teladan Alkitab (lihat teladannya di Mat.3:16, Kis 8:38-39). Kata baptis berasal dari bahasa Yunani ”baptizo” yang berarti dicelupkan;diselam; terendam seluruhnya dengan air atau dimandikan (Lihat arti ”pembaptisan” di kamus Alkitab LAI 1974&1997). Praktek baptisan dalam perjanjian baru adalah dengan cara diselam. Jika kita bertanya kepada seorang Yunani, apa arti bahasa Yunani baptizo, sambil menunjuk pada sebuah kapal, dia akan berkata: "Jika kapal itu terbenam seluruhnya ke dalam air, kita mengatakan bahwa kapal itu dibaptis." Ketika dia ditanya apakah kata itu bisa digunakan untuk beberapa tetes air yang dipercikkan di atas kapal, dia pasti akan menjawab: "Tidak; untuk hal itu kita menggunakan kata rhantizo"(memercikkan).
Kalau ditanya bagaimana caranya kita harus dibaptis, maka jawaban Alkitab dengan mutlak adalah di selam. Tuhan Yesus melakukan hal demikian. Di dalam Matius 3:16 berkata ”sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air”. Kata ”keluar dari air” menyatakan bahwa waktu dibaptis Dia ada di dalam air. Teladan Tuhan Yesus ini diikuti oleh orang yang dibaptis yang tercatat dalam Alkitab. Dalam Kis 8:38-39 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air,. . . .ayat ini begitu kuat membuktikan bahwa murid-murid Tuhan Yesus membaptis orang-orang percaya dengan cara dan teladan Tuhan Yesus.
Saya telah di baptis sejak umur 3 bulan. Apakah saya harus dibaptis sekali lagi ?
Yang utama disini adalah bukan masalah bagaimana caranya kita dibaptis, tetapi apakah kita telah dibaptis atau belum. Jika kita mengatakan telah dibaptis, selanjutnya adalah dengan cara bagaimanakah kita telah dibaptis? Apakah kita telah dibaptis menurut syarat yang dikatakan Alkitab perihal baptisan? Markus 16:16 berkata Barangsiapa percaya dan dibaptis akan diselamatkan. Syarat seseorang untuk dibaptis adalah orang itu harus percaya terlebih dahulu. Kedua hal ini tidak boleh terbalik, Alkitab berkata bahwa percaya dulu baru dibaptis, bukan sebaliknya, kita perlu berhati-hati terhadap perkara ini. Kis. 8:36-38 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?". Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah." Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Kita melihat bahwa Filipus tidak sembarang membaptis walaupun orang itu telah meminta supaya dibaptiskan. Filipus harus memastikan persyaratan sebelum dibaptis yaitu orang itu harus percaya terlebih dahulu . Ketika sida-sida itu berkata bahwa dia percaya maka tanpa ragu Filipus langsung membaptis dia. Teladan kedua anda dapat membacanya dalam Kis 16:30-33, bahwa sebelum kepala penjara dan keluarganya dibaptis mereka harus percaya terlebih dahulu. Jika saat kita ”dibaptis” pada umur 3 bulan kita telah percaya (menerima) Tuhan Yesus, maka kita telah memenuhi syarat dan baptisan kita sah menurut Alkitab. Tetapi jika kita pada saat itu belum percaya tetapi kita dengan yakin mengatakan bahwa kita telah dibaptis maka tanpa sadar ayat tadi menjadi terbalik bagi kita (baptis dulu baru kemudian percaya). Kita mungkin hanya dapat berkata bahwa yang dilakukan sewaktu masih kecil itu adalah orang tua kita mempersembahkan kita kepada Tuhan, tetapi sekali-kali itu bukan baptisan, karena tidak pernah ada kasus pembaptisan bayi di dalam Alkitab.
Saya telah dibaptis ketika saya telah percaya dan menerima Yesus, tetapi saya dibaptis dengan cara dipercik. Apakah baptisan saya tidak sah, dan apakah saya harus dibaptis lagi?
Memang baptisan adalah suatu pernyataan luaran dari kepercayaan kita, akan tetapi kedudukannya tetap sama pentingnya dengan kepercayaan tersebut. Jika kita sejak kecil belum pernah mengenal doktrin yang lain selain membaca Alkitab, maka kita pasti dengan sendirinya akan mengetahui bagaimana seharusnya pembaptisan itu. Baptisan adalah penguburan manusia lama kita, dimana kita mati (tenggelam) dan bangkit (keluar dari air) bersama Yesus menjadi manusia baru (Rm 6:3-5). Penguburan di air adalah kita tenggelam masuk ke dalam air, permandian adalah kita seluruhnya basah dengan air. Jadi kalau yang kita lakukan tidak sesuai dengan kedua prinsip tersebut, maka menurut Alkitab anda belum dibaptis.
Jika mengatakan bahwa tidak ada pembaptisan bayi, jadi bayi-bayi itu belum beroleh selamat ?
Kita diselamatkan oleh karena iman percaya kita kepada Tuhan, bukan karena iman orang lain misalnya orang tua kita. Jika anak bayi belum menerima Tuhan lalu meninggal dunia maka kita hanya dapat menjawab: itu urusan Tuhan dan bukan kita (Ulangan 29:29), kita hanya tahu bahwa Tuhan mengasihi anak-anak (Mat 19:14). Ada perkara yang tidak dinyatakan kepada kita, tetapi bukan berarti kita dapat berbuat sesuatu tanpa berdasarkan kepada firman itu sendiri.
Berarti sah-sah saja kita melakukan pembaptisan bayi, siapa tahu itu dibenarkan oleh Tuhan.
Prinsip Alkitabnya adalah setiap orang harus percaya dahulu sebelum dibaptis dan orang tersebut harus ”memberi dirinya” sendiri dan bukan ”dibawa” oleh orang lain.
Kis 2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis. . .
Kis 8:12 . . .dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan.
Kis 13:24 Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis.
Kis 16:33 Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis
Kis 18:8 ...dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri merekadibaptis.
Kis 19:5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis.
Kalau demikian semua orang yang selama ini dibaptis bukan dengan cara seperti di Alkitab adalah orang-orang yang salah? Jadi semua orang yang ”salah” ini tidak masuk surga?
Dalam kitab Wahyu pasal 2, 3 dan 21 ada delapan kali Tuhan berkata barangsiapa menang. Jika ada yang menang berarti ada yang kalah, jadi bukan perkara salah dan benar tetapi perkara menang dan kalah. Bacalah Alkitab LAI versi Pemulihan dengan catatan kaki penjelasan teks Alkitab agar mendapat penjelasan detil. Tentang masuk surga, tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa setiap orang yang percaya dan dibaptis akan masuk surga. Alkitab berkata yang percaya kepadaNya akan mendapatkan hidup kekal (mengacu kepada Hayat kekal Allah atau diri Allah sendiri sebagai hakiki).
Saya belum siap untuk memberi diri di baptis.
Pernyataan demikian biasanya mengandung alasan :
1). Merasa diri belum layak atau menunggu situasi (perubahan) yang lebih baik dulu.
2). Takut berbuat dosa lagi.
Keselamatan itu anugerah, bukan usaha kita. Tidak memerlukan kesiapan untuk menerimanya. Asal mau diselamatkan kita harus segera mengambilnya ketika Injil itu datang kepada kita. Berkata bersiap-siap dulu baru dibaptis adalah membuang kesempatan. Kebanyakan orang berpikir bahwa saya harus menjadi baik dulu, menjadi alim dulu, berhenti merokok dulu, berhenti berbuat dosa dulu baru menerima Tuhan dan di baptis, atau biarlah sekarang percaya dulu dan baptisnya nanti kalau sudah menjadi orang yang lebih baik. Jika kita menunggu semua menjadi baik dulu baru dibaptis, maka kemungkinan terbesar anda tidak akan pernah dibaptis. Jika anda menunggu siap dulu baru dibaptis, maka anda seumur hidup tidak akan pernah siap, karena anda setiap hari akan melihat kekurangan-kekurangan dalam diri anda. Tidak ada orang sempurna di dunia ini, tidak perlu menjadi baik dulu atau siap dulu, karena setelah kita dibaptis kita tidak serta merta menjadi orang yang sempurna dan tidak berbuat dosa lagi. Memang setelah kita dibaptis kita perlu membereskan manusia lama kita, karena baptisan juga adalah tanda pertobatan kita. Tetapi kita dibaptis adalah menjadi bayi rohani. Seorang bayi pasti dimulai dengan berjalan merangkak dulu, tidak langsung dapat berlari. Menyangka bahwa kita harus menjadi baik dulu dan siap dulu adalah tipuan musuh agar orang-orang tidak memberi diri dibaptis. Alkitab berkata percaya dan dibaptis (Mrk 16:16), ayat ini tidak berkata barangsiapa percaya dan bersiap dan menjadi lebih baik dulu baru kemudian dibaptis, ayat ini berkata asalkan orang itu percaya maka dia harus dibaptis. Jika kita berbuat dosa setelah dibaptis, maka Tuhan meminta kita untuk datang padaNya dan mengaku dosa kita (1 Yoh 1:9) dan kita akan diampuni. Jangan terkecoh dengan pemahaman bahwa orang yang sudah dibaptis sudah tidak melakukan dosa lagi. Justru ketika kita dibaptis adalah suatu awal dimana kita bertumbuh setiap hari menjadi lebih baik sesuai dengan pertumbuhan hayat Kristus di dalam kita yang setiap hari menyempurnakan kita. Dibaptis adalah untuk menjadikan kita orang-orang yang siap dan yang mau diubahkan oleh Tuhan sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef 4:13). Jadi baptis memberi kita kesiapan, bukan siap dulu baru dibaptis, jika kita merasa sudah siap maka kita tidak perlu dibaptis lagi karena kita menganggap kita sudah layak dan menjadi orang baik. Dibaptis adalah justru membuka diri kita; memberi kesempatan kepada Tuhan untuk bekerja mentransformasi (mengubah) anda hari demi hari bukan saja menjadi orang baik (Good Man) tetapi menjadi Manusia Allah (God Man-Rom 8:16,1 Tim 6:11).
Saya perlu mempelajari dan mendalami dulu Alkitab baru saya dibaptis.
Kasus-kasus baptisan di dalam Alkitab tidak mengatakan mereka percaya dan kemudian belajar dan mengerti Alkitab sedemikian rupa baru kemudian dibaptis. Amanat Tuhan Yesus dalam Mat.28:19-20 urutannya adalah : Pergilah, Baptislah, ajarilah.
Nanti-lah kapan-kapan, belum saatnya saya dibaptis.
Kedua kasus di Alkitab :
a. Sida-sida dari Etiopia dibaptis langsung setelah dia menyatakan percaya kepada Tuhan Yesus (Kis 8:37-39).
b. Kepala penjara dan keluarganya dibaptis pada jam itu juga setelah dia percaya (Kis 16:30-33)
c. Ada tiga ribu orang dibaptis di hari mereka percaya (Kis 2:41).
Saya masih berdoa untuk orang tua saya (megang hio), kalau saya dibaptis saya tidak bisa berdoa lagi untuk orang tua saya yang sudah meninggal.
Alkitab berkata : hormatilah ayah dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Mat 19:19). Menghormati orang tua dan mengasihi sesama manusia adalah suatu hubungan pada saat kita bersama hidup di dunia, bukan setelah yang lain meninggal dunia. Tidak ada hubungannya antara orang yang hidup dan orang yang mati, masing-masing ada di dua alam yang berbeda. Jika kita sebagai orang tua sudah meninggal, kita akan dihakimi Tuhan berdasarkan perbuatan kita masing-masing dan bukan karena pengaruh doa anak-anak kita. Doa orang lain kepada kita di alam baka tidak akan mempengaruhi Tuhan dalam penghakimanNya. Baik orang tua dan anak-anak memiliki nasib yang sama untuk berdiri di takhta penghakiman Tuhan untuk dihakimi. Jika seperti demikian maka keselamatan kita sangat bergantung kepada anak-anak kita, dan jika doa kita (anak-anak) mampu mengubah keputusan Tuhan, maka pertanyaannya adalah : ”siapakah kita?” Alkitab tidak mengajarkan berdoa bagi orang yang sudah meninggal. Hubungan orang tua dan anak dalam Alkitab adalah riil ketika kita semua masih hidup.
Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini."
Why22:18-19
Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Mat 5:37
Tuhan memberkati
Injil - Dibalik Kisah Orang Kaya dan Lazarus
Apakah dalam kisah orang kaya dan Lazarus dalam Lukas 16 berarti kebinasaan orang kaya itu disebahkan ia pernah menikmati kebahagiaan dunia, sedang keselamatan Lazarus disebahkan ia menderita sengsara; atau masih terdapat musabab lainnya?
Memang ada orang yang menafsirkan kebinasaan orang kaya itu karena dia pernah menikmati kebahagiaan di dunia, sedangkan keselamatan Lazarus karena ia pernah menderita. Asumsi ini tentu berdasarkan pernyataan Abraham dalam ayat 25. Benarkah begitu? Memang pada ayat 25 Abraham pernah mengisahkan perbedaan nasib kadua oknum itu baik pada masa mereka hidup maupun sesudah mati. Tetapi hingga ayat 29 barulah diungkapkannya sebeb musabab kebinasaan dan keselamatan mereka. Mari kita periksa lagi ayat 29: - "Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan pata nabi, baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu." Ini menunjukkan kebinasaan orang kaya itu adalah karena tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, sedangkan Lazarus bisa selamat karena menerima kesaksian Musa dan para nabi.
Apakah itu kesaksian Musa dan para nabi7 Ini dapat kita ketahui dari perkataan Tuhan Yesus kepada dua murid, yang menuju ke Emaus setelah Ia bangkit dari kematian dalam Lukas 24:27 : -Lalu Ia (Yesus) menjelaskan. kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh kitab suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. "Dan pada ayat 44-46 tertulis: "Ia berkata kepada mereka: Inilah perkataanKu kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yaitu bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Lalu Ia membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti kitab suci. KataNya kepada mereka: Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga." Jadi kesaksian Musa dan para nabi tak lain adalah kesaksian tentang Tuhan Yesus. Dengan kata lain, kebinasaan orang kaya itu adalah karena tak menerima Sang Juruselamat yang telah bangkit dari kematian, sedang keselamatan Lazarus adalah sebab ia menerima Sang Juruselamat itu.
Allah sudah mengaruniakan Alkitab kepada manusia karenanya, melalui kesaksian Alkitab, manusia sudah seyogianya bisa percaya, itulah sebabnya Allah tidak memakai seorang yang bangkit dari kematian untuk memberitakan InjilNya kepada manusia. Allah seolah-olah menyembunyikan diriNya sendiri. Penyembunyian itu dilakukan sedemikian rupa sehingga manusia menyangka tidak ada Allah. Bahkan walau manusia berdosa dan melakukan kejahatan, Allahpun tidak menghukumnya dengan petir. Dan walau manusia menghujat Allah ia tidak dihukumNya seketika. Allahpun tidak menulis kata-kata dengan bintang-bintang di langit bahwa manusia telah berdosa dan dalam alam semesta ada Allah. Hari ini Allah tidak menyatakan diriNya dengan cara yang aneh, Ia hanya menghendaki manusia percaya kepadaNya melalui kitab suciNya.
"Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekali pun oleh orang yang bangkit dari antara orang mati." (ay. 31) Di sini Allah mewahyukan kepada kita bahwa sekalipun ada seorang yang bangkit dari antara orang mati, jika orang tidak percaya kepada kesaksian Musa dan para nabi, tidaklah berguna. Jika orang tak percaya kepada kesaksian Alkitab, sekalipun ada orang yang bangkit dari antara orang mati, ia tetap tidak mau percaya.
Apakah dosa kita “ditutupi” atau “dihapus”?
Kita harus ingat : pertama, bahwa sitilah ”tebusan dosa” dalam Perjanjian Lama arti dalam bahasa aslinya ialah “menutupi”. Dalam Perjanjian Baru kecuali dikutip sekali oleh Rm.4:7 tidak pernah dikutip lagi istilah tersebut, Kedua, istilah “Korban tebusan dosa” dalam Alkitab, kecuali sejumlah kecil dirangkaikan penerjemahannya dengan “ditutupi”, maka sebagian besar adalah “korban dosa”, berarti suatu korban yang dipersembahan karena dosa. Yesus Kristus adalah sebagai korban tebusan dosa – Ia telah mempersembahkan diriNya demi dosa kita. Yesus Kristus tidak menutupi dosa kita.
Tuhan Yesus telah menghapus dosa kita, bukan menutupi dosa kita. “Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia.” (Yoh. 1:29)
Rabu, 20 Mei 2009
Pertanyaan tentang praktek Berbahasa Roh
Apakah kalian semua berbahasa lidah?
Karena ini adalah salah satu karunia, maka tidak mutlak bagi kami bahwa semuanya harus berbahasa lidah. Kami tidak dapat mempraktekkan manifestasi rohani dengan perbuatan jiwani (yang kami maksud adalah perbuatan atas gerakan alamiah pemikiran ataupun perasaan yang dipengaruhi oleh sesuatu yang bukan berasal dari roh-seperti menghipnotis diri sendiri). Kami menerima bahasa lidah yang tepat dan sejati yang berasal dari Roh.
Jadi bagaimanakah yang dimaksud dengan bahasa lidah yang sejati menurut kalian?
Kami selalu menjawabnya berdasarkan Alkitab dan bukan menurut persepsi atau penafsiran kami sendiri. Bahasa lidah yang sesungguhnya haruslah bahasa atau dialek yang tepat (Kis. 2: 4, 6, 8, 11) baik oleh manusia atau oleh malaikat (1 Kor. 13:1), bukan suara-suara atau bunyi yang tanpa arti atau suatu bunyi yang diucapkan berulang-ulang. Dalam Kisah Para Rasul 2, murid-murid adalah orang Galilea (Kis. 2:7) tetapi mereka berbicara dalam dialek yang berbeda-beda sesuai dengan para hadirin yang datang dari berbagai bagian di seluruh dunia (Kis. 2: 6–11). Pembicaraan dalam berbagai lidah oleh para murid dalam Kis. 2: 4 sama dengan dialek hadirin yang berasal dari berbagai daerah di dunia. Mereka memahami apa yang para murid katakan (Kis. 2:6, 8). “Ini adalah bukti yang kuat bahwa bahasa lidah yang dapat dipahami, bukan hanya suara atau bunyi yang diucapkan oleh lidah.” Kejadian di atas tidak memberikan dasar untuk mengatakan bahwa bahasa lidah adalah suara atau bunyi yang diucapkan oleh organ pembicaraan; bahasa itu haruslah suatu dialek, sebab apa yang dikatakan oleh para muridnya dalam lidah (Kis. 2:4, 11) semuanya adalah dialek yang berbeda (Kis.2:6,8).”
“Perjanjian Baru membuat lebih jelas lagi bahwa berbahasa lidah hanyalah salah satu dari banyak karunia Roh dan tidak semua kaum beriman memiliki karunia ini.” Dalam 1 Korintus Rasul Paulus memberikan daftar sembilan butir manifestasi Roh sebagai ilustrasi. “Dari kesembilan ini, bahasa lidah dan interpretasinya diletakkan di dua baris terakhir sebab tidak menguntungkan seperti butir yang lainnya untuk membangun gereja (1 Kor. 14: 2-6, 18-19).” Bahasa lidah yang sejati adalah yang dapat ditafsirkan oleh seorang anggota tubuh yang lain atau kalau tidak, orang yang berbahasa lidah harus meminta kepada Tuhan untuk dapat menafsirkannya sehingga dapat membangun jemaat, karena semua karunia diberikan Tuhan adalah untuk membangun gerejaNya (1Kor12:10,1Kor14:13).
Jadi salahkah jika ada yang mempraktekkan berbahasa lidah?
Bukan perkara benar dan salah, praktek ini ada di dalam Alkitab. Kita hidup di zaman dimana Hukum Taurat (luaran) telah menjadi Roh Hayat dalam kaum beriman (Roma7&8). Sekali lagi kami hanya mengakui dan menerima apa yang sejati, yang sesuai dengan Alkitab. Perlu ditegaskan disini bahwa kami tidak menentang praktek bahasa lidah, kami tidak pernah dan tidak akan melarang jika ada orang diantara kaum saleh berbahasa lidah. Sebab bagi kami, bukan karena praktek bahasa lidah kaum imani dapat terceraiberaikan.
Jadi apakah indikasi benar (sejati) atau tidaknya bahasa lidah tersebut? Bukankah ini adalah perkara iman masing-masing (Rm 14:23b)?
Kita masing-masing ada roh, dan di dalam roh ada hati nurani, kita diberikan Tuhan perasaan hayat. Dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita, jika ada orang yang berbahasa lidah dan yang mendengarkan mendapatkan suplai rohani, ada sesuatu yang terwahyu, ada firman atau suatu rahasia yang dibukakan, ada damai sejahtera, ada sukacita, membangun dan berfaedah bagi pendengar, maka itu adalah yang sejati. Akan tetapi, sebaliknya jika yang terjadi adalah keresahan, bertanya-tanya, bingung, keterpaksaan untuk menerima, tidak ada damai sejahtera, tidak ada sukacita, tidak membangun, tidak ada faedah, tidak ada sesuatu pun yang terwahyu, ada anggota tubuh yang merasa asing dan tersandung (1Kor14:11,23) maka ini bukan berasal dari Roh Kudus.
Kesemuanya ini akan dipersaksikan oleh hati nurani dalam kita seketika itu juga. Bagaimana dengan iman? Iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Iman yang sejati tentunya harus berdasarkan firman Tuhan murni (Rm 10:17). Iman diteguhkan oleh firman (2Pet1:19). Iman masing-masing kita seharusnya adalah iman yang berdasarkan kebenaran firman Alkitab yang murni dan bukan menurut kepercayaan dari perasaan alamiah ataupun keyakinan yang tidak berdasarkan firman, atau juga berdasarkan firman tetapi dengan penafsiran yang keliru. Keyakinan kita bukan berarti kehendak Allah.
Kalau bukan dari Roh Kudus, lantas dari siapa bahasa lidah saya itu? (pertanyaan ini biasanya diajukkan oleh orang yang mempertahankan keyakinan bahwa bahasa lidah yang dimilikinya adalah benar)
Bahasa lidah yang sejati tidak pernah datang dan tidak pernah diberikan oleh yang lain selain Roh Kudus. Selidikilah sendiri hati nurani anda sendiri, jangan bertanya kepada orang lain apa yang kita lakukan benar atau tidak. Orang lain hanya dapat merasakan tetapi andalah yang melakukan. Jadi selidikilah sendiri apakah sumbernya datang dari Roh Kudus (rohani) atau dari jiwa kita (jiwani) dengan berdoa kepada Tuhan. Kita perlu terbuka kepada Tuhan dengan bertanya kepadaNya. Tetapi anda tidak seharusnya mengabaikan orang yang gelisah dan mempertanyakan bahasa lidah anda sebab mungkin Tuhan memakai orang tersebut untuk mengekspose anda.
Bahasa lidah itu kan untuk membangun jemaat. Bagaimana saya dapat membangun yang lain kalau saya tidak membangun diri saya terlebih dahulu?
Menjawab pertanyaan ini pun harus banyak kembali kepada orang yang bertanya. Bagaimanakah anda membangun diri anda? Membangun diri sendiri sebagai anggota Tubuh yang berfungsi sangatlah tidak cukup dan tidak cukup baik dengan hanya mempraktekkan berbahasa lidah. Oleh sebabnya Alkitab tidak secara detil menjelaskan membangun dengan cara ini. Kita tidak semestinya membangun roh kita tanpa firman, firman adalah roh dan hayat (Yoh 6:63), ada Roh Kudus di dalam, ada firman Alkitab di luar. Firman adalah makanan roh kita (Yoh6:48), kita membangun berarti kita harus makan dan minum Dia (Yoh6:54). Kita sendiri tidak akan bertumbuh menjadi dewasa tanpa makan. Membangun diri sendiri sebagai bahan bangunan Allah (Tubuh Kristus-Gereja) adalah dengan memiliki pengetahuan yang penuh akan kebenaran (1Tim2:4). Pengetahuan akan kebenaran bukan untuk doktrin tetapi agar Kristus menjadi realitas hidup kita. Bagaimana mungkin kita membangun anggota tubuh lain jika kita sendiri tidak tahu-menahu, tidak mau belajar, tidak mau memahami firman Tuhan, tidak dikonstitusi firman Tuhan, dan tidak ada pengalaman menikmati Tuhan? Apakah yang akan kita suplaikan kepada anggota tubuh yang lain? Mungkin ada yang mengatakan: Pengalaman kita, mimpi kita, atau penglihatan kita, akan tetapi apakah kesemuanya itu dapat dipertanggungjawabkan dan selaras dengan prinsip Alkitab? Apakah pengalaman atau kesaksian yang kita sampaikan adalah sesuai dengan firman hayat atau alamiah kita sendiri? Dapatkan kita menjadi pelaku firman tanpa firman? Paulus menganjurkan juga agar pengalaman ataupun kesaksian kita kepada orang lain penyampaiannya harus dengan kata-kata yang jelas (dapat dimengerti) dan bukan dengan bahasa lidah (1Kor14:9,16-19). Untuk membangun kita perlu mengejar karunia roh yang lebih tinggi lagi yaitu karunia bertutur sabda (bernubuat-prophesying)-1Kor14:4.
Bukankah berbahasa lidah adalah tanda bagi orang yang telah menerima Roh Kudus atau dipenuhi dengan Roh Kudus? (pertanyaan ini sering diajukkan oleh orang yang tidak jelas tentang baptisan Roh Kudus).
Jawaban atas pertanyaan ini, kita perlu terlebih dahulu mengerti Baptisan Roh Kudus.
Dalam Kisah Para Rasul, “mengenai penerimaan kaum beriman terhadap Roh Kudus secara ekonomikal (pletho-Kis1:8,2:4,17), yaitu Roh Kudus yang turun ke atas mereka, hanya disebutkan lima kasus. Dua di antaranya adalah untuk merampungkan baptisan Roh Kudus.” Dua kasus “baptisan Roh Kudus ini adalah fakta yang rampung yang dikerjakan Kristus dalam kenaikan-Nya,” pada hari Pentakosta untuk kaum beriman Yahudi” (Kis. 1:5, 2:4) dan di rumah Kornelius untuk kaum beriman kafir (Kis. 10:44-45, 11:15–16). “Melalui dua langkah ini Kepala Tubuh membaptis semua kaum beriman-Nya, baik Yahudi dan Kafir, sekali untuk selamanya ke dalam satu Tubuh-Nya (1 Kor. 12:113).” Tiga kasus lainnya, kaum beriman Samaria dalam Kis. 8, Saulus dari Tarsus dalam Kis. 9, dan dua belas kaum beriman Efesus dalam Kis. 19, “dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim, di mana beberapa anggota Tubuh Kristus diperlukan untuk menyatukan kaum beriman itu dengan Tubuh melalui penumpangan tangan. Selain lima kasus ini dalam banyak kasus pertobatan seperti 3,000 orang (Kis. 2:41), 5,000 orang (Kis. 4:4), sida-sida Etiopia (Kis. 8:36, 38–39a), banyak orang yang percaya di Antiokhia (Kis. 11: 20–21, 24), contoh-contoh lainnya di pasal 13 dan 14 di bawah ministri pemberitaan Paulus”, dsb, “tidak disebutkan kaum beriman menerima Roh Kudus secara ekonomikal dan tidak terjadi suatu tanda-tanda lahiriah seperti berbahasa lidah…sebab dalam semua kasus, kaum beriman dibawa di dalam Tubuh Kristus secara normal melalui percayanya mereka kepada Tuhan Yesus Kristus”
Seseorang menerima Roh Kudus (secara essensial-pleroo Yoh20:22,Yoh14:17,Rm8:11) ketika di dalam iman dia percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.“ Menurut prinsip ekonomi Perjanjian Baru Allah, mereka semua harus menerima Roh Kudus secara esensial untuk hayat dan secara ekonomikal untuk kuasa secara normal melalui percayanya mereka ke dalam Kristus.” . Jadi Baptisan Roh Kudus yang berarti kita mendapatkan Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus adalah terjadi pada saat kita percaya ke dalam Yesus Kristus.
Itu berarti kalian tidak mengajarkan Baptisan Roh Kudus?
Alkitab tidak mengajar kita untuk membaptis dengan air kemudian membaptis dengan Roh Kudus atau sebaliknya. Baptisan Roh Kudus dikerjakan oleh Dia. Dia yang membaptis kita (Mat 3:11) adalah Dia yang telah mencurahkan Roh Kudus di dalam dua aspeknya (essensial dan ekonomikal). Baptisan Roh Kudus telah rampung. ”Dua kasus“ baptisan Roh Kudus ini adalah fakta yang telah rampung yang dikerjakan Kristus dalam kenaikan-Nya,” pada hari Pentakosta untuk kaum beriman Yahudi” (Kis. 1:5, 2:4) dan di rumah Kornelius untuk kaum beriman kafir (Kis. 10:44-45, 11:15–16). “Melalui dua langkah ini Kepala Tubuh membaptis semua kaum beriman-Nya, baik Yahudi dan Kafir, sekali untuk selamanya ke dalam satu Tubuh-Nya secara universal (1 Kor. 12:113).
Bisa diperjelas lagi, kapankah orang Kristen menerima baptisan Roh Kudus?
Yaitu ketika orang percaya kepada Tuhan Yesus (Kis10:44-46,19:2).
Kembali lagi tentang bahasa lidah tadi, jadi bahasa lidah bukan suatu bukti mutlak orang yang dipenuhi Roh Kudus?
Ya! Benar, karena tidak semua orang berbahasa lidah. Kisah Para Rasul 2:4 mengatakan, “Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain . . .” Ayat ini tidak membuktikan bahwa mereka semua berbahasa lidah. Misalnya, bila kita berkata, “Kami semua datang bersidang dan mulai berdoa,” apakah itu berarti kita semua berdoa? Tidak! Belum tentu. Begitu pula kalimat ini. Kata “semua” disini hanya menerangkan dipenuhi dan bukan menerangkan “berbicara”. Jadi ini tidak dapat dipakai untuk membuktikan bahwa semua murid yang dipenuhi Roh Kudus pasti berbahasa lidah.
Selasa, 19 Mei 2009
Kemajuan Rohani
Jika ingin membicarakannya secara ringkas, maka menurut Alkitab , kemajuan rohani adalah makin bertambahnya unsur-unsur Allah di dalam diri kita, dan di pihak lain adalah berkurangnya unsur-unsur alamiah kita. Bukankah ini adalah gambaran yang tidak sulit untuk dipahami?
Rohanikah Anda? oh..sungguh pertanyaan yang teramat sulit untuk dijawab. Allah itu Roh, jika Roh Allah berdiam di dalam diri kita, maka kita sebenarnya sudah menjadi rohani (Rm. 8:9). Kemajuan rohani berarti unsur-unsur Allah makin bertambah di dalam kita. Misalnya pada saat Anda baru beroleh selamat, unsur Allah yang ada di dalam Anda adalah 100, kini karena rohani Anda mengalami kemajuan, unsur Allah itu bertambah menjadi 200 atau 300. Semakin unsur Ilahi bertambah maka semakin Anda mengekspresikan Dia di dalam hidup Anda. Selama ini kita bingung dengan istilah "menjadi kesaksian". Kita mempersaksikan siapa? insani (alamiah kita) ataukah Dia (Kristus) yang ada di dalam kita. Kristus yang terekspresi inilah sesungguhnya yang disebut "kesaksian sejati". Dan untuk hal ini diperlukan kemajuan rohani. Tuhan memberkati.