Bahasa roh dalam bahasa aslinya adalah bahasa lidah. Ini adalah salah satu dari karunia roh. Diberikan terutama untuk membangun Tubuh Kristus (1Kor14:12), mempersaksikan perbuatan Allah yang ajaib (Kis2:11) dan untuk membangun kaum saleh secara perorangan dalam persekutuannya dengan Allah (1Kor14:4).
Apakah kalian semua berbahasa lidah?
Karena ini adalah salah satu karunia, maka tidak mutlak bagi kami bahwa semuanya harus berbahasa lidah. Kami tidak dapat mempraktekkan manifestasi rohani dengan perbuatan jiwani (yang kami maksud adalah perbuatan atas gerakan alamiah pemikiran ataupun perasaan yang dipengaruhi oleh sesuatu yang bukan berasal dari roh-seperti menghipnotis diri sendiri). Kami menerima bahasa lidah yang tepat dan sejati yang berasal dari Roh.
Jadi bagaimanakah yang dimaksud dengan bahasa lidah yang sejati menurut kalian?
Kami selalu menjawabnya berdasarkan Alkitab dan bukan menurut persepsi atau penafsiran kami sendiri. Bahasa lidah yang sesungguhnya haruslah bahasa atau dialek yang tepat (Kis. 2: 4, 6, 8, 11) baik oleh manusia atau oleh malaikat (1 Kor. 13:1), bukan suara-suara atau bunyi yang tanpa arti atau suatu bunyi yang diucapkan berulang-ulang. Dalam Kisah Para Rasul 2, murid-murid adalah orang Galilea (Kis. 2:7) tetapi mereka berbicara dalam dialek yang berbeda-beda sesuai dengan para hadirin yang datang dari berbagai bagian di seluruh dunia (Kis. 2: 6–11). Pembicaraan dalam berbagai lidah oleh para murid dalam Kis. 2: 4 sama dengan dialek hadirin yang berasal dari berbagai daerah di dunia. Mereka memahami apa yang para murid katakan (Kis. 2:6, 8). “Ini adalah bukti yang kuat bahwa bahasa lidah yang dapat dipahami, bukan hanya suara atau bunyi yang diucapkan oleh lidah.” Kejadian di atas tidak memberikan dasar untuk mengatakan bahwa bahasa lidah adalah suara atau bunyi yang diucapkan oleh organ pembicaraan; bahasa itu haruslah suatu dialek, sebab apa yang dikatakan oleh para muridnya dalam lidah (Kis. 2:4, 11) semuanya adalah dialek yang berbeda (Kis.2:6,8).”
“Perjanjian Baru membuat lebih jelas lagi bahwa berbahasa lidah hanyalah salah satu dari banyak karunia Roh dan tidak semua kaum beriman memiliki karunia ini.” Dalam 1 Korintus Rasul Paulus memberikan daftar sembilan butir manifestasi Roh sebagai ilustrasi. “Dari kesembilan ini, bahasa lidah dan interpretasinya diletakkan di dua baris terakhir sebab tidak menguntungkan seperti butir yang lainnya untuk membangun gereja (1 Kor. 14: 2-6, 18-19).” Bahasa lidah yang sejati adalah yang dapat ditafsirkan oleh seorang anggota tubuh yang lain atau kalau tidak, orang yang berbahasa lidah harus meminta kepada Tuhan untuk dapat menafsirkannya sehingga dapat membangun jemaat, karena semua karunia diberikan Tuhan adalah untuk membangun gerejaNya (1Kor12:10,1Kor14:13).
Jadi salahkah jika ada yang mempraktekkan berbahasa lidah?
Bukan perkara benar dan salah, praktek ini ada di dalam Alkitab. Kita hidup di zaman dimana Hukum Taurat (luaran) telah menjadi Roh Hayat dalam kaum beriman (Roma7&8). Sekali lagi kami hanya mengakui dan menerima apa yang sejati, yang sesuai dengan Alkitab. Perlu ditegaskan disini bahwa kami tidak menentang praktek bahasa lidah, kami tidak pernah dan tidak akan melarang jika ada orang diantara kaum saleh berbahasa lidah. Sebab bagi kami, bukan karena praktek bahasa lidah kaum imani dapat terceraiberaikan.
Jadi apakah indikasi benar (sejati) atau tidaknya bahasa lidah tersebut? Bukankah ini adalah perkara iman masing-masing (Rm 14:23b)?
Kita masing-masing ada roh, dan di dalam roh ada hati nurani, kita diberikan Tuhan perasaan hayat. Dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita, jika ada orang yang berbahasa lidah dan yang mendengarkan mendapatkan suplai rohani, ada sesuatu yang terwahyu, ada firman atau suatu rahasia yang dibukakan, ada damai sejahtera, ada sukacita, membangun dan berfaedah bagi pendengar, maka itu adalah yang sejati. Akan tetapi, sebaliknya jika yang terjadi adalah keresahan, bertanya-tanya, bingung, keterpaksaan untuk menerima, tidak ada damai sejahtera, tidak ada sukacita, tidak membangun, tidak ada faedah, tidak ada sesuatu pun yang terwahyu, ada anggota tubuh yang merasa asing dan tersandung (1Kor14:11,23) maka ini bukan berasal dari Roh Kudus.
Kesemuanya ini akan dipersaksikan oleh hati nurani dalam kita seketika itu juga. Bagaimana dengan iman? Iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Iman yang sejati tentunya harus berdasarkan firman Tuhan murni (Rm 10:17). Iman diteguhkan oleh firman (2Pet1:19). Iman masing-masing kita seharusnya adalah iman yang berdasarkan kebenaran firman Alkitab yang murni dan bukan menurut kepercayaan dari perasaan alamiah ataupun keyakinan yang tidak berdasarkan firman, atau juga berdasarkan firman tetapi dengan penafsiran yang keliru. Keyakinan kita bukan berarti kehendak Allah.
Kalau bukan dari Roh Kudus, lantas dari siapa bahasa lidah saya itu? (pertanyaan ini biasanya diajukkan oleh orang yang mempertahankan keyakinan bahwa bahasa lidah yang dimilikinya adalah benar)
Bahasa lidah yang sejati tidak pernah datang dan tidak pernah diberikan oleh yang lain selain Roh Kudus. Selidikilah sendiri hati nurani anda sendiri, jangan bertanya kepada orang lain apa yang kita lakukan benar atau tidak. Orang lain hanya dapat merasakan tetapi andalah yang melakukan. Jadi selidikilah sendiri apakah sumbernya datang dari Roh Kudus (rohani) atau dari jiwa kita (jiwani) dengan berdoa kepada Tuhan. Kita perlu terbuka kepada Tuhan dengan bertanya kepadaNya. Tetapi anda tidak seharusnya mengabaikan orang yang gelisah dan mempertanyakan bahasa lidah anda sebab mungkin Tuhan memakai orang tersebut untuk mengekspose anda.
Bahasa lidah itu kan untuk membangun jemaat. Bagaimana saya dapat membangun yang lain kalau saya tidak membangun diri saya terlebih dahulu?
Menjawab pertanyaan ini pun harus banyak kembali kepada orang yang bertanya. Bagaimanakah anda membangun diri anda? Membangun diri sendiri sebagai anggota Tubuh yang berfungsi sangatlah tidak cukup dan tidak cukup baik dengan hanya mempraktekkan berbahasa lidah. Oleh sebabnya Alkitab tidak secara detil menjelaskan membangun dengan cara ini. Kita tidak semestinya membangun roh kita tanpa firman, firman adalah roh dan hayat (Yoh 6:63), ada Roh Kudus di dalam, ada firman Alkitab di luar. Firman adalah makanan roh kita (Yoh6:48), kita membangun berarti kita harus makan dan minum Dia (Yoh6:54). Kita sendiri tidak akan bertumbuh menjadi dewasa tanpa makan. Membangun diri sendiri sebagai bahan bangunan Allah (Tubuh Kristus-Gereja) adalah dengan memiliki pengetahuan yang penuh akan kebenaran (1Tim2:4). Pengetahuan akan kebenaran bukan untuk doktrin tetapi agar Kristus menjadi realitas hidup kita. Bagaimana mungkin kita membangun anggota tubuh lain jika kita sendiri tidak tahu-menahu, tidak mau belajar, tidak mau memahami firman Tuhan, tidak dikonstitusi firman Tuhan, dan tidak ada pengalaman menikmati Tuhan? Apakah yang akan kita suplaikan kepada anggota tubuh yang lain? Mungkin ada yang mengatakan: Pengalaman kita, mimpi kita, atau penglihatan kita, akan tetapi apakah kesemuanya itu dapat dipertanggungjawabkan dan selaras dengan prinsip Alkitab? Apakah pengalaman atau kesaksian yang kita sampaikan adalah sesuai dengan firman hayat atau alamiah kita sendiri? Dapatkan kita menjadi pelaku firman tanpa firman? Paulus menganjurkan juga agar pengalaman ataupun kesaksian kita kepada orang lain penyampaiannya harus dengan kata-kata yang jelas (dapat dimengerti) dan bukan dengan bahasa lidah (1Kor14:9,16-19). Untuk membangun kita perlu mengejar karunia roh yang lebih tinggi lagi yaitu karunia bertutur sabda (bernubuat-prophesying)-1Kor14:4.
Bukankah berbahasa lidah adalah tanda bagi orang yang telah menerima Roh Kudus atau dipenuhi dengan Roh Kudus? (pertanyaan ini sering diajukkan oleh orang yang tidak jelas tentang baptisan Roh Kudus).
Jawaban atas pertanyaan ini, kita perlu terlebih dahulu mengerti Baptisan Roh Kudus.
Dalam Kisah Para Rasul, “mengenai penerimaan kaum beriman terhadap Roh Kudus secara ekonomikal (pletho-Kis1:8,2:4,17), yaitu Roh Kudus yang turun ke atas mereka, hanya disebutkan lima kasus. Dua di antaranya adalah untuk merampungkan baptisan Roh Kudus.” Dua kasus “baptisan Roh Kudus ini adalah fakta yang rampung yang dikerjakan Kristus dalam kenaikan-Nya,” pada hari Pentakosta untuk kaum beriman Yahudi” (Kis. 1:5, 2:4) dan di rumah Kornelius untuk kaum beriman kafir (Kis. 10:44-45, 11:15–16). “Melalui dua langkah ini Kepala Tubuh membaptis semua kaum beriman-Nya, baik Yahudi dan Kafir, sekali untuk selamanya ke dalam satu Tubuh-Nya (1 Kor. 12:113).” Tiga kasus lainnya, kaum beriman Samaria dalam Kis. 8, Saulus dari Tarsus dalam Kis. 9, dan dua belas kaum beriman Efesus dalam Kis. 19, “dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim, di mana beberapa anggota Tubuh Kristus diperlukan untuk menyatukan kaum beriman itu dengan Tubuh melalui penumpangan tangan. Selain lima kasus ini dalam banyak kasus pertobatan seperti 3,000 orang (Kis. 2:41), 5,000 orang (Kis. 4:4), sida-sida Etiopia (Kis. 8:36, 38–39a), banyak orang yang percaya di Antiokhia (Kis. 11: 20–21, 24), contoh-contoh lainnya di pasal 13 dan 14 di bawah ministri pemberitaan Paulus”, dsb, “tidak disebutkan kaum beriman menerima Roh Kudus secara ekonomikal dan tidak terjadi suatu tanda-tanda lahiriah seperti berbahasa lidah…sebab dalam semua kasus, kaum beriman dibawa di dalam Tubuh Kristus secara normal melalui percayanya mereka kepada Tuhan Yesus Kristus”
Seseorang menerima Roh Kudus (secara essensial-pleroo Yoh20:22,Yoh14:17,Rm8:11) ketika di dalam iman dia percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.“ Menurut prinsip ekonomi Perjanjian Baru Allah, mereka semua harus menerima Roh Kudus secara esensial untuk hayat dan secara ekonomikal untuk kuasa secara normal melalui percayanya mereka ke dalam Kristus.” . Jadi Baptisan Roh Kudus yang berarti kita mendapatkan Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus adalah terjadi pada saat kita percaya ke dalam Yesus Kristus.
Itu berarti kalian tidak mengajarkan Baptisan Roh Kudus?
Alkitab tidak mengajar kita untuk membaptis dengan air kemudian membaptis dengan Roh Kudus atau sebaliknya. Baptisan Roh Kudus dikerjakan oleh Dia. Dia yang membaptis kita (Mat 3:11) adalah Dia yang telah mencurahkan Roh Kudus di dalam dua aspeknya (essensial dan ekonomikal). Baptisan Roh Kudus telah rampung. ”Dua kasus“ baptisan Roh Kudus ini adalah fakta yang telah rampung yang dikerjakan Kristus dalam kenaikan-Nya,” pada hari Pentakosta untuk kaum beriman Yahudi” (Kis. 1:5, 2:4) dan di rumah Kornelius untuk kaum beriman kafir (Kis. 10:44-45, 11:15–16). “Melalui dua langkah ini Kepala Tubuh membaptis semua kaum beriman-Nya, baik Yahudi dan Kafir, sekali untuk selamanya ke dalam satu Tubuh-Nya secara universal (1 Kor. 12:113).
Bisa diperjelas lagi, kapankah orang Kristen menerima baptisan Roh Kudus?
Yaitu ketika orang percaya kepada Tuhan Yesus (Kis10:44-46,19:2).
Kembali lagi tentang bahasa lidah tadi, jadi bahasa lidah bukan suatu bukti mutlak orang yang dipenuhi Roh Kudus?
Ya! Benar, karena tidak semua orang berbahasa lidah. Kisah Para Rasul 2:4 mengatakan, “Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain . . .” Ayat ini tidak membuktikan bahwa mereka semua berbahasa lidah. Misalnya, bila kita berkata, “Kami semua datang bersidang dan mulai berdoa,” apakah itu berarti kita semua berdoa? Tidak! Belum tentu. Begitu pula kalimat ini. Kata “semua” disini hanya menerangkan dipenuhi dan bukan menerangkan “berbicara”. Jadi ini tidak dapat dipakai untuk membuktikan bahwa semua murid yang dipenuhi Roh Kudus pasti berbahasa lidah.
Apakah kalian semua berbahasa lidah?
Karena ini adalah salah satu karunia, maka tidak mutlak bagi kami bahwa semuanya harus berbahasa lidah. Kami tidak dapat mempraktekkan manifestasi rohani dengan perbuatan jiwani (yang kami maksud adalah perbuatan atas gerakan alamiah pemikiran ataupun perasaan yang dipengaruhi oleh sesuatu yang bukan berasal dari roh-seperti menghipnotis diri sendiri). Kami menerima bahasa lidah yang tepat dan sejati yang berasal dari Roh.
Jadi bagaimanakah yang dimaksud dengan bahasa lidah yang sejati menurut kalian?
Kami selalu menjawabnya berdasarkan Alkitab dan bukan menurut persepsi atau penafsiran kami sendiri. Bahasa lidah yang sesungguhnya haruslah bahasa atau dialek yang tepat (Kis. 2: 4, 6, 8, 11) baik oleh manusia atau oleh malaikat (1 Kor. 13:1), bukan suara-suara atau bunyi yang tanpa arti atau suatu bunyi yang diucapkan berulang-ulang. Dalam Kisah Para Rasul 2, murid-murid adalah orang Galilea (Kis. 2:7) tetapi mereka berbicara dalam dialek yang berbeda-beda sesuai dengan para hadirin yang datang dari berbagai bagian di seluruh dunia (Kis. 2: 6–11). Pembicaraan dalam berbagai lidah oleh para murid dalam Kis. 2: 4 sama dengan dialek hadirin yang berasal dari berbagai daerah di dunia. Mereka memahami apa yang para murid katakan (Kis. 2:6, 8). “Ini adalah bukti yang kuat bahwa bahasa lidah yang dapat dipahami, bukan hanya suara atau bunyi yang diucapkan oleh lidah.” Kejadian di atas tidak memberikan dasar untuk mengatakan bahwa bahasa lidah adalah suara atau bunyi yang diucapkan oleh organ pembicaraan; bahasa itu haruslah suatu dialek, sebab apa yang dikatakan oleh para muridnya dalam lidah (Kis. 2:4, 11) semuanya adalah dialek yang berbeda (Kis.2:6,8).”
“Perjanjian Baru membuat lebih jelas lagi bahwa berbahasa lidah hanyalah salah satu dari banyak karunia Roh dan tidak semua kaum beriman memiliki karunia ini.” Dalam 1 Korintus Rasul Paulus memberikan daftar sembilan butir manifestasi Roh sebagai ilustrasi. “Dari kesembilan ini, bahasa lidah dan interpretasinya diletakkan di dua baris terakhir sebab tidak menguntungkan seperti butir yang lainnya untuk membangun gereja (1 Kor. 14: 2-6, 18-19).” Bahasa lidah yang sejati adalah yang dapat ditafsirkan oleh seorang anggota tubuh yang lain atau kalau tidak, orang yang berbahasa lidah harus meminta kepada Tuhan untuk dapat menafsirkannya sehingga dapat membangun jemaat, karena semua karunia diberikan Tuhan adalah untuk membangun gerejaNya (1Kor12:10,1Kor14:13).
Jadi salahkah jika ada yang mempraktekkan berbahasa lidah?
Bukan perkara benar dan salah, praktek ini ada di dalam Alkitab. Kita hidup di zaman dimana Hukum Taurat (luaran) telah menjadi Roh Hayat dalam kaum beriman (Roma7&8). Sekali lagi kami hanya mengakui dan menerima apa yang sejati, yang sesuai dengan Alkitab. Perlu ditegaskan disini bahwa kami tidak menentang praktek bahasa lidah, kami tidak pernah dan tidak akan melarang jika ada orang diantara kaum saleh berbahasa lidah. Sebab bagi kami, bukan karena praktek bahasa lidah kaum imani dapat terceraiberaikan.
Jadi apakah indikasi benar (sejati) atau tidaknya bahasa lidah tersebut? Bukankah ini adalah perkara iman masing-masing (Rm 14:23b)?
Kita masing-masing ada roh, dan di dalam roh ada hati nurani, kita diberikan Tuhan perasaan hayat. Dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita, jika ada orang yang berbahasa lidah dan yang mendengarkan mendapatkan suplai rohani, ada sesuatu yang terwahyu, ada firman atau suatu rahasia yang dibukakan, ada damai sejahtera, ada sukacita, membangun dan berfaedah bagi pendengar, maka itu adalah yang sejati. Akan tetapi, sebaliknya jika yang terjadi adalah keresahan, bertanya-tanya, bingung, keterpaksaan untuk menerima, tidak ada damai sejahtera, tidak ada sukacita, tidak membangun, tidak ada faedah, tidak ada sesuatu pun yang terwahyu, ada anggota tubuh yang merasa asing dan tersandung (1Kor14:11,23) maka ini bukan berasal dari Roh Kudus.
Kesemuanya ini akan dipersaksikan oleh hati nurani dalam kita seketika itu juga. Bagaimana dengan iman? Iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Iman yang sejati tentunya harus berdasarkan firman Tuhan murni (Rm 10:17). Iman diteguhkan oleh firman (2Pet1:19). Iman masing-masing kita seharusnya adalah iman yang berdasarkan kebenaran firman Alkitab yang murni dan bukan menurut kepercayaan dari perasaan alamiah ataupun keyakinan yang tidak berdasarkan firman, atau juga berdasarkan firman tetapi dengan penafsiran yang keliru. Keyakinan kita bukan berarti kehendak Allah.
Kalau bukan dari Roh Kudus, lantas dari siapa bahasa lidah saya itu? (pertanyaan ini biasanya diajukkan oleh orang yang mempertahankan keyakinan bahwa bahasa lidah yang dimilikinya adalah benar)
Bahasa lidah yang sejati tidak pernah datang dan tidak pernah diberikan oleh yang lain selain Roh Kudus. Selidikilah sendiri hati nurani anda sendiri, jangan bertanya kepada orang lain apa yang kita lakukan benar atau tidak. Orang lain hanya dapat merasakan tetapi andalah yang melakukan. Jadi selidikilah sendiri apakah sumbernya datang dari Roh Kudus (rohani) atau dari jiwa kita (jiwani) dengan berdoa kepada Tuhan. Kita perlu terbuka kepada Tuhan dengan bertanya kepadaNya. Tetapi anda tidak seharusnya mengabaikan orang yang gelisah dan mempertanyakan bahasa lidah anda sebab mungkin Tuhan memakai orang tersebut untuk mengekspose anda.
Bahasa lidah itu kan untuk membangun jemaat. Bagaimana saya dapat membangun yang lain kalau saya tidak membangun diri saya terlebih dahulu?
Menjawab pertanyaan ini pun harus banyak kembali kepada orang yang bertanya. Bagaimanakah anda membangun diri anda? Membangun diri sendiri sebagai anggota Tubuh yang berfungsi sangatlah tidak cukup dan tidak cukup baik dengan hanya mempraktekkan berbahasa lidah. Oleh sebabnya Alkitab tidak secara detil menjelaskan membangun dengan cara ini. Kita tidak semestinya membangun roh kita tanpa firman, firman adalah roh dan hayat (Yoh 6:63), ada Roh Kudus di dalam, ada firman Alkitab di luar. Firman adalah makanan roh kita (Yoh6:48), kita membangun berarti kita harus makan dan minum Dia (Yoh6:54). Kita sendiri tidak akan bertumbuh menjadi dewasa tanpa makan. Membangun diri sendiri sebagai bahan bangunan Allah (Tubuh Kristus-Gereja) adalah dengan memiliki pengetahuan yang penuh akan kebenaran (1Tim2:4). Pengetahuan akan kebenaran bukan untuk doktrin tetapi agar Kristus menjadi realitas hidup kita. Bagaimana mungkin kita membangun anggota tubuh lain jika kita sendiri tidak tahu-menahu, tidak mau belajar, tidak mau memahami firman Tuhan, tidak dikonstitusi firman Tuhan, dan tidak ada pengalaman menikmati Tuhan? Apakah yang akan kita suplaikan kepada anggota tubuh yang lain? Mungkin ada yang mengatakan: Pengalaman kita, mimpi kita, atau penglihatan kita, akan tetapi apakah kesemuanya itu dapat dipertanggungjawabkan dan selaras dengan prinsip Alkitab? Apakah pengalaman atau kesaksian yang kita sampaikan adalah sesuai dengan firman hayat atau alamiah kita sendiri? Dapatkan kita menjadi pelaku firman tanpa firman? Paulus menganjurkan juga agar pengalaman ataupun kesaksian kita kepada orang lain penyampaiannya harus dengan kata-kata yang jelas (dapat dimengerti) dan bukan dengan bahasa lidah (1Kor14:9,16-19). Untuk membangun kita perlu mengejar karunia roh yang lebih tinggi lagi yaitu karunia bertutur sabda (bernubuat-prophesying)-1Kor14:4.
Bukankah berbahasa lidah adalah tanda bagi orang yang telah menerima Roh Kudus atau dipenuhi dengan Roh Kudus? (pertanyaan ini sering diajukkan oleh orang yang tidak jelas tentang baptisan Roh Kudus).
Jawaban atas pertanyaan ini, kita perlu terlebih dahulu mengerti Baptisan Roh Kudus.
Dalam Kisah Para Rasul, “mengenai penerimaan kaum beriman terhadap Roh Kudus secara ekonomikal (pletho-Kis1:8,2:4,17), yaitu Roh Kudus yang turun ke atas mereka, hanya disebutkan lima kasus. Dua di antaranya adalah untuk merampungkan baptisan Roh Kudus.” Dua kasus “baptisan Roh Kudus ini adalah fakta yang rampung yang dikerjakan Kristus dalam kenaikan-Nya,” pada hari Pentakosta untuk kaum beriman Yahudi” (Kis. 1:5, 2:4) dan di rumah Kornelius untuk kaum beriman kafir (Kis. 10:44-45, 11:15–16). “Melalui dua langkah ini Kepala Tubuh membaptis semua kaum beriman-Nya, baik Yahudi dan Kafir, sekali untuk selamanya ke dalam satu Tubuh-Nya (1 Kor. 12:113).” Tiga kasus lainnya, kaum beriman Samaria dalam Kis. 8, Saulus dari Tarsus dalam Kis. 9, dan dua belas kaum beriman Efesus dalam Kis. 19, “dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim, di mana beberapa anggota Tubuh Kristus diperlukan untuk menyatukan kaum beriman itu dengan Tubuh melalui penumpangan tangan. Selain lima kasus ini dalam banyak kasus pertobatan seperti 3,000 orang (Kis. 2:41), 5,000 orang (Kis. 4:4), sida-sida Etiopia (Kis. 8:36, 38–39a), banyak orang yang percaya di Antiokhia (Kis. 11: 20–21, 24), contoh-contoh lainnya di pasal 13 dan 14 di bawah ministri pemberitaan Paulus”, dsb, “tidak disebutkan kaum beriman menerima Roh Kudus secara ekonomikal dan tidak terjadi suatu tanda-tanda lahiriah seperti berbahasa lidah…sebab dalam semua kasus, kaum beriman dibawa di dalam Tubuh Kristus secara normal melalui percayanya mereka kepada Tuhan Yesus Kristus”
Seseorang menerima Roh Kudus (secara essensial-pleroo Yoh20:22,Yoh14:17,Rm8:11) ketika di dalam iman dia percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.“ Menurut prinsip ekonomi Perjanjian Baru Allah, mereka semua harus menerima Roh Kudus secara esensial untuk hayat dan secara ekonomikal untuk kuasa secara normal melalui percayanya mereka ke dalam Kristus.” . Jadi Baptisan Roh Kudus yang berarti kita mendapatkan Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus adalah terjadi pada saat kita percaya ke dalam Yesus Kristus.
Itu berarti kalian tidak mengajarkan Baptisan Roh Kudus?
Alkitab tidak mengajar kita untuk membaptis dengan air kemudian membaptis dengan Roh Kudus atau sebaliknya. Baptisan Roh Kudus dikerjakan oleh Dia. Dia yang membaptis kita (Mat 3:11) adalah Dia yang telah mencurahkan Roh Kudus di dalam dua aspeknya (essensial dan ekonomikal). Baptisan Roh Kudus telah rampung. ”Dua kasus“ baptisan Roh Kudus ini adalah fakta yang telah rampung yang dikerjakan Kristus dalam kenaikan-Nya,” pada hari Pentakosta untuk kaum beriman Yahudi” (Kis. 1:5, 2:4) dan di rumah Kornelius untuk kaum beriman kafir (Kis. 10:44-45, 11:15–16). “Melalui dua langkah ini Kepala Tubuh membaptis semua kaum beriman-Nya, baik Yahudi dan Kafir, sekali untuk selamanya ke dalam satu Tubuh-Nya secara universal (1 Kor. 12:113).
Bisa diperjelas lagi, kapankah orang Kristen menerima baptisan Roh Kudus?
Yaitu ketika orang percaya kepada Tuhan Yesus (Kis10:44-46,19:2).
Kembali lagi tentang bahasa lidah tadi, jadi bahasa lidah bukan suatu bukti mutlak orang yang dipenuhi Roh Kudus?
Ya! Benar, karena tidak semua orang berbahasa lidah. Kisah Para Rasul 2:4 mengatakan, “Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain . . .” Ayat ini tidak membuktikan bahwa mereka semua berbahasa lidah. Misalnya, bila kita berkata, “Kami semua datang bersidang dan mulai berdoa,” apakah itu berarti kita semua berdoa? Tidak! Belum tentu. Begitu pula kalimat ini. Kata “semua” disini hanya menerangkan dipenuhi dan bukan menerangkan “berbicara”. Jadi ini tidak dapat dipakai untuk membuktikan bahwa semua murid yang dipenuhi Roh Kudus pasti berbahasa lidah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar