Dalam perkara ini, ada beberapa perbedaan tafsiran yang mengakibatkan praktek berbeda di antara kaum imani dalam sejarah gereja. Disini saya berbeban untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan dalam pengalaman sewaktu memberitakan Injil. Jawaban-jawaban disini bukan untuk mengkonfrontir perbedaan keyakinan yang ada, tetapi hanya memaparkan fakta-fakta Alkitab, yang sudah pasti tidak ditambahi ataupun dikurangi (Mat.5:37, Why.22:18-19). Semoga dapat memberi bantuan.
Mengapa seseorang perlu dibaptis ?
Baptisan diperlukan bagi seseorang yang telah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Ini tidak berlaku bagi orang yang tidak percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan.
Apakah baptisan itu menyelamatkan? yang saya tahu selama ini bahwa agama tidak menyelamatkan, ajaran-ajaran tidak menyelamatkan, bahkan baptisan pun tidak menyelamatkan.
Kedua pernyataan di depan adalah benar. Tuhan Yesus datang ke dunia bukan membawa atau mendirikan agama. Dia datang membawa keselamatan yaitu dirinya sendiri. Tetapi pernyataan bahwa baptisan tidak menyelamatkan sudah pasti keliru karena tidak sesuai dengan Alkitab. Baptisan adalah langkah orang diselamatkan. Sangat jelas di Markus 16:16 bahwa siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan. Jika seseorang menyatakan bahwa dia percaya Tuhan Yesus maka baptisan adalah bukti kepercayaannya. Percaya dan dibaptis adalah satu langkah dan satu paket, oleh sebabnya ayat di atas memakai kata sambung ”dan” bukan ”atau”. Kita tidak semestinya hanya mengambil yang satu dan mengabaikan yang lain.
Dapatkah di jelaskan lebih jauh bahwa baptisan itu menyelamatkan?
Baptisan telah dilambangkan dengan keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir dalam Kitab Keluaran (1 Kor 10:2). Mesir melambangkan dunia, Firaun melambangkan Iblis. Israel adalah umat Allah yang tinggal di Mesir, mereka harus diselamatkan Allah keluar dari tanah perbudakan Mesir. Keluarnya mereka dari Mesir adalah keselamatan bagi mereka. Tetapi yang harus mereka lakukan untuk diselamatkan dari cengkeraman Firaun di Mesir adalah menyeberangi laut Merah. Penyeberangan mereka adalah dengan masuk di tengah-tengah air yang terbelah, ini adalah perlambangan dari baptisan. Setelah mereka keluar dari air, Firaun dan tentaranya yang mengejar mereka tenggelam di air. Artinya setelah kita keluar dari air baptisan, maka kita diselamatkan dan terbebaskan dari Iblis dan dunia. Iblis dan tentaranya terkubur di dalam air baptisan kita, dan kita mengalami keselamatan sekaligus kemenangan atas Iblis dan dunia. Air bah juga adalah lambang baptisan air yang menyelamatkan Nuh dari angkatannya yang jahat itu (1 Ptr. 3:20-21). Kedua fakta Alkitab ini menegaskan bahwa baptisan menyelamatkan kita.
Markus 16:16 di kalimat kedua berbunyi : tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Ini berarti hanya percaya saja yang menyelamatkan kita dan bukan baptisan, karena baptisan tidak disebutkan lagi dalam kalimat kedua ini.
Kalimat kedua ini justru memperjelas kalimat yang pertama bahwa kalau seseorang itu percaya, maka pastilah dia dibaptis, tapi jika seseorang tidak percaya maka pastilah dia tidak dibaptis, oleh sebab itu kata ”dan tidak dibaptis” tidak perlu dicantumkan lagi, seseorang yang tidak percaya tidak memerlukan baptisan. Hanya orang percaya yang memerlukan baptisan. Saya bekerja maka saya beroleh upah, tetapi jika saya tidak bekerja maka saya pasti tidak beroleh upah. Saya memiliki seorang anak, maka saya harus merawat anak saya. Jika saya tidak mempunyai anak maka. . . .(kalimat selanjutnya tidak diperlukan lagi karena kita semua telah mengetahuinya). Semoga ilustrasi ini membantu kita.
Hari ini ada berbagai cara-baptisan di dalam Keskristenan. Menurut saya itu bukan suatu masalah. Yang penting disini adalah apa yang saya yakini benar, itulah yang baik menurut iman saya.
Masalahnya adalah apakah keyakinan itu berdasarkan firman Tuhan atau tidak. Kita tidak semestinya meyakini sesuatu tanpa dasar yang jelas. Kajian teologis atau praktek tradisi sering dipakai untuk memaksakan adanya pengesahan terhadap suatu pelaksanaan atau praktek dalam kekristenan. Berbagai cara baptisan adalah fakta banyaknya perbedaan pandangan atau tafsiran di dalam kekristenan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa semua praktek itu benar, karena di dalam Alkitab kita hanya dapat melihat satu cara baptisan.
Jadi menurut caranya bagaimana seharusnya kita dibaptis?
Seharusnya kita dibaptis menurut teladan Alkitab (lihat teladannya di Mat.3:16, Kis 8:38-39). Kata baptis berasal dari bahasa Yunani ”baptizo” yang berarti dicelupkan;diselam; terendam seluruhnya dengan air atau dimandikan (Lihat arti ”pembaptisan” di kamus Alkitab LAI 1974&1997). Praktek baptisan dalam perjanjian baru adalah dengan cara diselam. Jika kita bertanya kepada seorang Yunani, apa arti bahasa Yunani baptizo, sambil menunjuk pada sebuah kapal, dia akan berkata: "Jika kapal itu terbenam seluruhnya ke dalam air, kita mengatakan bahwa kapal itu dibaptis." Ketika dia ditanya apakah kata itu bisa digunakan untuk beberapa tetes air yang dipercikkan di atas kapal, dia pasti akan menjawab: "Tidak; untuk hal itu kita menggunakan kata rhantizo"(memercikkan).
Kalau ditanya bagaimana caranya kita harus dibaptis, maka jawaban Alkitab dengan mutlak adalah di selam. Tuhan Yesus melakukan hal demikian. Di dalam Matius 3:16 berkata ”sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air”. Kata ”keluar dari air” menyatakan bahwa waktu dibaptis Dia ada di dalam air. Teladan Tuhan Yesus ini diikuti oleh orang yang dibaptis yang tercatat dalam Alkitab. Dalam Kis 8:38-39 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air,. . . .ayat ini begitu kuat membuktikan bahwa murid-murid Tuhan Yesus membaptis orang-orang percaya dengan cara dan teladan Tuhan Yesus.
Saya telah di baptis sejak umur 3 bulan. Apakah saya harus dibaptis sekali lagi ?
Yang utama disini adalah bukan masalah bagaimana caranya kita dibaptis, tetapi apakah kita telah dibaptis atau belum. Jika kita mengatakan telah dibaptis, selanjutnya adalah dengan cara bagaimanakah kita telah dibaptis? Apakah kita telah dibaptis menurut syarat yang dikatakan Alkitab perihal baptisan? Markus 16:16 berkata Barangsiapa percaya dan dibaptis akan diselamatkan. Syarat seseorang untuk dibaptis adalah orang itu harus percaya terlebih dahulu. Kedua hal ini tidak boleh terbalik, Alkitab berkata bahwa percaya dulu baru dibaptis, bukan sebaliknya, kita perlu berhati-hati terhadap perkara ini. Kis. 8:36-38 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?". Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah." Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Kita melihat bahwa Filipus tidak sembarang membaptis walaupun orang itu telah meminta supaya dibaptiskan. Filipus harus memastikan persyaratan sebelum dibaptis yaitu orang itu harus percaya terlebih dahulu . Ketika sida-sida itu berkata bahwa dia percaya maka tanpa ragu Filipus langsung membaptis dia. Teladan kedua anda dapat membacanya dalam Kis 16:30-33, bahwa sebelum kepala penjara dan keluarganya dibaptis mereka harus percaya terlebih dahulu. Jika saat kita ”dibaptis” pada umur 3 bulan kita telah percaya (menerima) Tuhan Yesus, maka kita telah memenuhi syarat dan baptisan kita sah menurut Alkitab. Tetapi jika kita pada saat itu belum percaya tetapi kita dengan yakin mengatakan bahwa kita telah dibaptis maka tanpa sadar ayat tadi menjadi terbalik bagi kita (baptis dulu baru kemudian percaya). Kita mungkin hanya dapat berkata bahwa yang dilakukan sewaktu masih kecil itu adalah orang tua kita mempersembahkan kita kepada Tuhan, tetapi sekali-kali itu bukan baptisan, karena tidak pernah ada kasus pembaptisan bayi di dalam Alkitab.
Saya telah dibaptis ketika saya telah percaya dan menerima Yesus, tetapi saya dibaptis dengan cara dipercik. Apakah baptisan saya tidak sah, dan apakah saya harus dibaptis lagi?
Memang baptisan adalah suatu pernyataan luaran dari kepercayaan kita, akan tetapi kedudukannya tetap sama pentingnya dengan kepercayaan tersebut. Jika kita sejak kecil belum pernah mengenal doktrin yang lain selain membaca Alkitab, maka kita pasti dengan sendirinya akan mengetahui bagaimana seharusnya pembaptisan itu. Baptisan adalah penguburan manusia lama kita, dimana kita mati (tenggelam) dan bangkit (keluar dari air) bersama Yesus menjadi manusia baru (Rm 6:3-5). Penguburan di air adalah kita tenggelam masuk ke dalam air, permandian adalah kita seluruhnya basah dengan air. Jadi kalau yang kita lakukan tidak sesuai dengan kedua prinsip tersebut, maka menurut Alkitab anda belum dibaptis.
Jika mengatakan bahwa tidak ada pembaptisan bayi, jadi bayi-bayi itu belum beroleh selamat ?
Kita diselamatkan oleh karena iman percaya kita kepada Tuhan, bukan karena iman orang lain misalnya orang tua kita. Jika anak bayi belum menerima Tuhan lalu meninggal dunia maka kita hanya dapat menjawab: itu urusan Tuhan dan bukan kita (Ulangan 29:29), kita hanya tahu bahwa Tuhan mengasihi anak-anak (Mat 19:14). Ada perkara yang tidak dinyatakan kepada kita, tetapi bukan berarti kita dapat berbuat sesuatu tanpa berdasarkan kepada firman itu sendiri.
Berarti sah-sah saja kita melakukan pembaptisan bayi, siapa tahu itu dibenarkan oleh Tuhan.
Prinsip Alkitabnya adalah setiap orang harus percaya dahulu sebelum dibaptis dan orang tersebut harus ”memberi dirinya” sendiri dan bukan ”dibawa” oleh orang lain.
Kis 2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis. . .
Kis 8:12 . . .dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan.
Kis 13:24 Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis.
Kis 16:33 Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis
Kis 18:8 ...dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri merekadibaptis.
Kis 19:5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis.
Kalau demikian semua orang yang selama ini dibaptis bukan dengan cara seperti di Alkitab adalah orang-orang yang salah? Jadi semua orang yang ”salah” ini tidak masuk surga?
Dalam kitab Wahyu pasal 2, 3 dan 21 ada delapan kali Tuhan berkata barangsiapa menang. Jika ada yang menang berarti ada yang kalah, jadi bukan perkara salah dan benar tetapi perkara menang dan kalah. Bacalah Alkitab LAI versi Pemulihan dengan catatan kaki penjelasan teks Alkitab agar mendapat penjelasan detil. Tentang masuk surga, tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa setiap orang yang percaya dan dibaptis akan masuk surga. Alkitab berkata yang percaya kepadaNya akan mendapatkan hidup kekal (mengacu kepada Hayat kekal Allah atau diri Allah sendiri sebagai hakiki).
Saya belum siap untuk memberi diri di baptis.
Pernyataan demikian biasanya mengandung alasan :
1). Merasa diri belum layak atau menunggu situasi (perubahan) yang lebih baik dulu.
2). Takut berbuat dosa lagi.
Keselamatan itu anugerah, bukan usaha kita. Tidak memerlukan kesiapan untuk menerimanya. Asal mau diselamatkan kita harus segera mengambilnya ketika Injil itu datang kepada kita. Berkata bersiap-siap dulu baru dibaptis adalah membuang kesempatan. Kebanyakan orang berpikir bahwa saya harus menjadi baik dulu, menjadi alim dulu, berhenti merokok dulu, berhenti berbuat dosa dulu baru menerima Tuhan dan di baptis, atau biarlah sekarang percaya dulu dan baptisnya nanti kalau sudah menjadi orang yang lebih baik. Jika kita menunggu semua menjadi baik dulu baru dibaptis, maka kemungkinan terbesar anda tidak akan pernah dibaptis. Jika anda menunggu siap dulu baru dibaptis, maka anda seumur hidup tidak akan pernah siap, karena anda setiap hari akan melihat kekurangan-kekurangan dalam diri anda. Tidak ada orang sempurna di dunia ini, tidak perlu menjadi baik dulu atau siap dulu, karena setelah kita dibaptis kita tidak serta merta menjadi orang yang sempurna dan tidak berbuat dosa lagi. Memang setelah kita dibaptis kita perlu membereskan manusia lama kita, karena baptisan juga adalah tanda pertobatan kita. Tetapi kita dibaptis adalah menjadi bayi rohani. Seorang bayi pasti dimulai dengan berjalan merangkak dulu, tidak langsung dapat berlari. Menyangka bahwa kita harus menjadi baik dulu dan siap dulu adalah tipuan musuh agar orang-orang tidak memberi diri dibaptis. Alkitab berkata percaya dan dibaptis (Mrk 16:16), ayat ini tidak berkata barangsiapa percaya dan bersiap dan menjadi lebih baik dulu baru kemudian dibaptis, ayat ini berkata asalkan orang itu percaya maka dia harus dibaptis. Jika kita berbuat dosa setelah dibaptis, maka Tuhan meminta kita untuk datang padaNya dan mengaku dosa kita (1 Yoh 1:9) dan kita akan diampuni. Jangan terkecoh dengan pemahaman bahwa orang yang sudah dibaptis sudah tidak melakukan dosa lagi. Justru ketika kita dibaptis adalah suatu awal dimana kita bertumbuh setiap hari menjadi lebih baik sesuai dengan pertumbuhan hayat Kristus di dalam kita yang setiap hari menyempurnakan kita. Dibaptis adalah untuk menjadikan kita orang-orang yang siap dan yang mau diubahkan oleh Tuhan sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef 4:13). Jadi baptis memberi kita kesiapan, bukan siap dulu baru dibaptis, jika kita merasa sudah siap maka kita tidak perlu dibaptis lagi karena kita menganggap kita sudah layak dan menjadi orang baik. Dibaptis adalah justru membuka diri kita; memberi kesempatan kepada Tuhan untuk bekerja mentransformasi (mengubah) anda hari demi hari bukan saja menjadi orang baik (Good Man) tetapi menjadi Manusia Allah (God Man-Rom 8:16,1 Tim 6:11).
Saya perlu mempelajari dan mendalami dulu Alkitab baru saya dibaptis.
Kasus-kasus baptisan di dalam Alkitab tidak mengatakan mereka percaya dan kemudian belajar dan mengerti Alkitab sedemikian rupa baru kemudian dibaptis. Amanat Tuhan Yesus dalam Mat.28:19-20 urutannya adalah : Pergilah, Baptislah, ajarilah.
Nanti-lah kapan-kapan, belum saatnya saya dibaptis.
Kedua kasus di Alkitab :
a. Sida-sida dari Etiopia dibaptis langsung setelah dia menyatakan percaya kepada Tuhan Yesus (Kis 8:37-39).
b. Kepala penjara dan keluarganya dibaptis pada jam itu juga setelah dia percaya (Kis 16:30-33)
c. Ada tiga ribu orang dibaptis di hari mereka percaya (Kis 2:41).
Saya masih berdoa untuk orang tua saya (megang hio), kalau saya dibaptis saya tidak bisa berdoa lagi untuk orang tua saya yang sudah meninggal.
Alkitab berkata : hormatilah ayah dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Mat 19:19). Menghormati orang tua dan mengasihi sesama manusia adalah suatu hubungan pada saat kita bersama hidup di dunia, bukan setelah yang lain meninggal dunia. Tidak ada hubungannya antara orang yang hidup dan orang yang mati, masing-masing ada di dua alam yang berbeda. Jika kita sebagai orang tua sudah meninggal, kita akan dihakimi Tuhan berdasarkan perbuatan kita masing-masing dan bukan karena pengaruh doa anak-anak kita. Doa orang lain kepada kita di alam baka tidak akan mempengaruhi Tuhan dalam penghakimanNya. Baik orang tua dan anak-anak memiliki nasib yang sama untuk berdiri di takhta penghakiman Tuhan untuk dihakimi. Jika seperti demikian maka keselamatan kita sangat bergantung kepada anak-anak kita, dan jika doa kita (anak-anak) mampu mengubah keputusan Tuhan, maka pertanyaannya adalah : ”siapakah kita?” Alkitab tidak mengajarkan berdoa bagi orang yang sudah meninggal. Hubungan orang tua dan anak dalam Alkitab adalah riil ketika kita semua masih hidup.
Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini."
Why22:18-19
Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Mat 5:37
Tuhan memberkati